BUTIRAN
LOGAM YANG BERHARGA
Setiap
hari saat langit masih sangat gelap, tak ada seekor ayampun yang bangun dari
tidurnya, namun dia tetap melangkahkan kakinya beranjak dari tempat tidur, dia
mengambil baju usangnya yang sudah sangat lama dia pakai. Hanya berkekalkan
sebuah senter rusak yang hanya mempunyai satu buah lampu yang masih menyala,
dia bergegas keluar dari rumah dengan langkah pelan di usianya yang sudah tidak
muda lagi dia meninggalkan anak dan istrinya yang sedang terlelap. Dengan
langkah kecil dia menuju sebuah kandang tepat didepan rumahnya yang sederhana,
diambilnya sebuah motor yang mungkin anak jaman sekarang enggan untuk
menaikinya bahkan untuk melihatnya pun mungkin mereka akan mentertawakan sepeda
motor tua itu. Namun lain halnya dengan lelaki tua itu, baginya sepeda motor
tua dan sudah rusak itu adalah barang berharga baginya, karena itu adalah
kendaraan yang bisa membawanya mencari makan untuk hewan peliharaannya itu.
Setelah sepeda motor tua itu dia keluarkan, dia mencoba sekuat tenaga
menyalakan sepeda motor itu yang biasanya sangat sulit dia nyalakan bahkan
hingga kakinya tergores dan bahkan membuka kembali goresan luka bekas
menyalakan sepda motornya yang terdahulu. Tak lama kemudian kaki yang sudah tak
sekuat dulu itu bisa menyalakan sepeda motor lalu memasukan gigi dan mulai
menggas dan pergi meninggalkan rumahnya yang sederhana ituuntuk mencari rumput
untuk pakan ternaknya.
Matahari
mulai menampakkan sinarnya, lelaki tua itu kembali ke rumahnya dengan membawa
seikat rumput untuk pakan ternaknya, dengan wajah yang tersenyum bahagia dia
memberi makan ternaknya dengan Ikhlas tanpa memperhatikan dirinya yang sama
sekali belum mengisi perutnya dengan sebutir nasi pun, tanpa menghiraukan
betapa kotornya pakaian dan kaki setelah dia beerkutat dengan gelapnya malam. Tak
lama kemudian suara Adzan berkumandang seiring dengn membawa langkah kaki
lelaki tua itu menuju rumah dan mulai membersihkan badannya dan kemudian
membawanya bersujud di hadapan Tuhan untuk sekedar mengucap syukur atas nikmat
yang diberikan Tuhan kepadanya.
Secangkir
kopi yang dissediakan sang istri dia minum walaupun tanpa makanan pendamping
lainnya, dia bergegas pergi kembali menuju sawah yang dia olah selama satu
tahun, sangat lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya 1 tahun kedepan untuk
dia, istri, dan dua orang anaknya yang masih sangat butuh kehadiran sosok
kepala keluarga. Anaknya yang sulung sekarang bersekolah di sekolah swasta dan
hendak pergi berangkat sekolah, tetapi lelaki tua itu menghalangi langkah aanaknya “tunggu nak,
biar bapak antar,”. Dengan wajah tersenyum dibalik lelah, dan tubuh yang sudah
tidak lagi muda itu dia ingin anaknya tidak terlambat sampai ke sekolah.
Bergegas lelaki tua itu membersihkan sebagian kakinya yang kotor lari kemudian
memakai pakaian yang bersih menurutnya agar anaknya tidak malu ketika dia antar
ke sekolah.
Dalam
perjalanan diatas sepeda motor tuanya, lelaki tua itu berkata “ kamu adalah
harapan bapak dan ibu, kamu adalah kebanggaan kami, belajar yang pintar,
jadilah anak yang berbakti”kemudian menetes air dari sudut matanya yang sendu
segera dia usap karena takut anaknya
tahu. “iya pak saya akan belajar dengan baik, jadi anak yang cerdas, dan bisa
membahagiakan bapak dan ibu” jawab anaknya itu. Tiba disekolah, teman-temannya
yang lain diantar oleh orang tuanya menggunakan mobil dan motor yang jauh lebih
bagus dari motor lelaki tua itu, namun anak lelaki tua itu tiddak pernah merasa
malu dengan keadaan orangtuanya, dia bangga kepada bapaknya.
Sepulang
mengantar anaknya, bukannya dia duduk dan berstirahat lelaki tua itu malah
membersihkan motorrnya dari rumput dan tanah yang menempel,dia bersihkan
kemudian dia mengambil pakaian seadanya, celana yang sudah sobek bagian
pinggirnya, bahkan dia memakai tali rapia untuk mencegah celananya jatuh karena
tidak seukuran dengan tubuhnya. Dia mengambil sebuah piring kecil mengambmil
nasi dan hanya ditemani satu buah ikan asin, istrinya berkata “makanlah dengan
telur(satu buah telur ayam dipotong menjadi 4)”. Kemudian lelaki tua itu
menggelengkan kepala dan menjawab “ tidak, telur itu untuk kalian, untuk
anak-anakku, biarlah dengan inipun sudah sangat nikma. Aku ingin anakku tumbuh
menjadi anak yang cerdas agar kelak mereka menjadi anak-anak yang sukses tidak
seperti aku ini” . istrinya hanya teerpaku diam dan meneteskan air mata bangga
melihat suaminya itu.
--------------------------------To
Be Continue----------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan tinggalkan saran dan kritik anda