Senin, 16 November 2015

LELAKI TUA



BUTIRAN LOGAM YANG BERHARGA


Setiap hari saat langit masih sangat gelap, tak ada seekor ayampun yang bangun dari tidurnya, namun dia tetap melangkahkan kakinya beranjak dari tempat tidur, dia mengambil baju usangnya yang sudah sangat lama dia pakai. Hanya berkekalkan sebuah senter rusak yang hanya mempunyai satu buah lampu yang masih menyala, dia bergegas keluar dari rumah dengan langkah pelan di usianya yang sudah tidak muda lagi dia meninggalkan anak dan istrinya yang sedang terlelap. Dengan langkah kecil dia menuju sebuah kandang tepat didepan rumahnya yang sederhana, diambilnya sebuah motor yang mungkin anak jaman sekarang enggan untuk menaikinya bahkan untuk melihatnya pun mungkin mereka akan mentertawakan sepeda motor tua itu. Namun lain halnya dengan lelaki tua itu, baginya sepeda motor tua dan sudah rusak itu adalah barang berharga baginya, karena itu adalah kendaraan yang bisa membawanya mencari makan untuk hewan peliharaannya itu. Setelah sepeda motor tua itu dia keluarkan, dia mencoba sekuat tenaga menyalakan sepeda motor itu yang biasanya sangat sulit dia nyalakan bahkan hingga kakinya tergores dan bahkan membuka kembali goresan luka bekas menyalakan sepda motornya yang terdahulu. Tak lama kemudian kaki yang sudah tak sekuat dulu itu bisa menyalakan sepeda motor lalu memasukan gigi dan mulai menggas dan pergi meninggalkan rumahnya yang sederhana ituuntuk mencari rumput untuk pakan ternaknya.
          Matahari mulai menampakkan sinarnya, lelaki tua itu kembali ke rumahnya dengan membawa seikat rumput untuk pakan ternaknya, dengan wajah yang tersenyum bahagia dia memberi makan ternaknya dengan Ikhlas tanpa memperhatikan dirinya yang sama sekali belum mengisi perutnya dengan sebutir nasi pun, tanpa menghiraukan betapa kotornya pakaian dan kaki setelah dia beerkutat dengan gelapnya malam. Tak lama kemudian suara Adzan berkumandang seiring dengn membawa langkah kaki lelaki tua itu menuju rumah dan mulai membersihkan badannya dan kemudian membawanya bersujud di hadapan Tuhan untuk sekedar mengucap syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya.
          Secangkir kopi yang dissediakan sang istri dia minum walaupun tanpa makanan pendamping lainnya, dia bergegas pergi kembali menuju sawah yang dia olah selama satu tahun, sangat lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya 1 tahun kedepan untuk dia, istri, dan dua orang anaknya yang masih sangat butuh kehadiran sosok kepala keluarga. Anaknya yang sulung sekarang bersekolah di sekolah swasta dan hendak pergi berangkat sekolah, tetapi lelaki tua  itu menghalangi langkah aanaknya “tunggu nak, biar bapak antar,”. Dengan wajah tersenyum dibalik lelah, dan tubuh yang sudah tidak lagi muda itu dia ingin anaknya tidak terlambat sampai ke sekolah. Bergegas lelaki tua itu membersihkan sebagian kakinya yang kotor lari kemudian memakai pakaian yang bersih menurutnya agar anaknya tidak malu ketika dia antar ke sekolah.
          Dalam perjalanan diatas sepeda motor tuanya, lelaki tua itu berkata “ kamu adalah harapan bapak dan ibu, kamu adalah kebanggaan kami, belajar yang pintar, jadilah anak yang berbakti”kemudian menetes air dari sudut matanya yang sendu segera dia  usap karena takut anaknya tahu. “iya pak saya akan belajar dengan baik, jadi anak yang cerdas, dan bisa membahagiakan bapak dan ibu” jawab anaknya itu. Tiba disekolah, teman-temannya yang lain diantar oleh orang tuanya menggunakan mobil dan motor yang jauh lebih bagus dari motor lelaki tua itu, namun anak lelaki tua itu tiddak pernah merasa malu dengan keadaan orangtuanya, dia bangga kepada bapaknya.
          Sepulang mengantar anaknya, bukannya dia duduk dan berstirahat lelaki tua itu malah membersihkan motorrnya dari rumput dan tanah yang menempel,dia bersihkan kemudian dia mengambil pakaian seadanya, celana yang sudah sobek bagian pinggirnya, bahkan dia memakai tali rapia untuk mencegah celananya jatuh karena tidak seukuran dengan tubuhnya. Dia mengambil sebuah piring kecil mengambmil nasi dan hanya ditemani satu buah ikan asin, istrinya berkata “makanlah dengan telur(satu buah telur ayam dipotong menjadi 4)”. Kemudian lelaki tua itu menggelengkan kepala dan menjawab “ tidak, telur itu untuk kalian, untuk anak-anakku, biarlah dengan inipun sudah sangat nikma. Aku ingin anakku tumbuh menjadi anak yang cerdas agar kelak mereka menjadi anak-anak yang sukses tidak seperti aku ini” . istrinya hanya teerpaku diam dan meneteskan air mata bangga melihat suaminya itu.
--------------------------------To Be Continue----------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan saran dan kritik anda